(Spondilitis tuberkulosa)
Sehat itu indah dan memang cukup mahal untuk mendapatkan menikmatinya, Bersyukurlah kalian yang diberi kesehatan. Banyak orang yang menginginkan tubuhnya sehat bahkan harus mengeluarkan biaya yang cukup bayak dengan berbagai cara. Salah satunya adalah aku. Aku di vonis mengidap penyakit Spondilitis tuberkulosa. Pada awalnya saya tidak tahu bahwa selama ini saya mengidap penyakit yang menakutkan ini. aku kira penyakit yang selama ini bersarang ditubuhku itu dikarenakan waktu kecil saya pernah mengalami kecelakaan mobil (tabrak lari g2). Tapi ini salah besar, penyakit ini dikarenakan infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycubacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra (Abdurrahman, et al 1994; 144).
Beberapa bulan setelah kejadian itu terdapat benjolan pada punggungku sebesar kelereng, ketika itu saya hanya merasa ngilu dan terkadang pengal-pegal. Lama kelamaan ngilu itu menjadi sangat sakit dan pada akhirnya saya tidak bisa berjalan karena hal itu . Setelah sekian lama saya berobat ke berbagai tempat dari tukang pijat, dokter, herbal bahkan pengobatan alternative pun tidak membuahkan hasil. Selama 4 tahun berusaha untuk sembuh hingga satu ketika saya berobat didaerah Balaraja-Banten dan disinilah saya baru bisa berjalan setelah terapi beberapa kali. Saya kira cukup sampai disini, tapi ternyata setelah itu saya masih merasa ngilu dan sakit pada punggung . Bahkan benjolannya pun makin lama makin membesar sehingga tubuhku pun tidak tegak lagi tapi gibbus (membungkuk kedepan ya seperti nenek yang terkena Osteoporosis (hehe…_^)) . Dan setelah diperiksa ulang disinilah saya tahu bahwa saya mengidap penyakit Spondilitis tuberkulosa, penyakit yang kebayakan orang menakutinya .
Tidak ada yang menyangka bahwa diriku terkena penyakit ini. Hampir 10 tahun penyakit ini bersarang ditubuhku… Ya Spondilitis tuberkulosa yang biasa disebut dengan Tbc Tulang atau tuberkulosis tulang yaitu merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di seluruh dunia. Terhitung kurang lebih 3 juta kematian terjadi setiap tahunnya dikarenakan penyakit ini. ichh serem juga y…_^
Apa itu Spondilitis tuberkulosa:
Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosa dengan gejala yang bervariasi dan ditandai dengan pembentukan tuberkel dan necrosis kaseosa pada jaringan setiap organ yang terinfeksi. Dan dapat menyerang paru-paru atau di luar paru-paru, seperti meningitis (radang otak), TBC kulit, TBC usus, TBC ginjal, Synovitis tb (sendi) dan Spondylitis tb (TBC tulang belakang). Memang pertama kali kuman ini menyerang paru-paru, TBC di luar paru merupakan fase lanjut dari penyakit TBC paru yang tidak diobati dengan baik atau tuntas.
Penyebab Tuberculosis adalah Micobacterium Tuberculosa. Kuman ini dapat menginfeksi manusia, seperti M. bovis, M. kansasii, M. intracellular. Pada manusia paru-paru merupakan pintu gerbang utama masuknya infeksi pada organ lain, bahkan bisa sampai menginfeksi tulang.
Tuberkulosis tulang adalah suatu proses peradangan kronik dan destruktif yang disebabkan basil tuberkulosa yang menyebar secara hematogen dari focus jauh, dan hampir selalu berasal dari paru-paru. Penyebaran basil ini dapat terjadi pada waktu infeksi primer atau pasca primer.
Gejala :
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari. (Rasjad. 1998)
Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut,kemudian diikuti dengan paraparesis yang lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus,, hiper-refleksia dan refleks Babinski bilateral. Pada stadium awal ini belum ditemukan deformitas tulang vertebra, demikian pula belum terdapat nyeri ketok pada vertebra yang bersangkutan. Nyeri spinal yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal, dan komplikasi neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut. Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 50% kasus,termasuk akibat penekanan medulla spinalis yang menyebabkan paraplegia, paraparesis, ataupun nyeri radix saraf. Tanda yang biasa ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus), bengkak pada daerah paravertebra, dan tanda-tanda defisit neurologis seperti yang sudah disebutkan di atas. (Harsono,2003)
Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang kepala, gangguan menelan dan gangguan pernapasan akibat adanya abses retrofaring. Harus diingat pada mulanya penekanan mulai dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang muncul terutama gangguan motorik. Gangguan sensorik pada stadium awal jarang dijumpai kecuali bila bagian posterior tulang juga terlibat. (Harsono,2003)
Pada penderita usia anak-anak apabila tidak menimbulkan gejala, Maka TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Sekitar 30-50% anak-anak yang terjadi kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
Penularan :
Penularan TBC melalui droplet atau percikan dahak atau ludah saat penderita infektif batuk. Gejala TBC paru salah satunya adalah batuk yang lama dan menghasilkan dahak. Bagaimana bisa terkena TBC tulang? Hal ini terjadi bisa dengan dua cara, pernah menderita TBC paru kemudian tidak mendapat pengobatan secara tuntas, atau terinfeksi kuman TBC tapi tidak menunjukkan gejala. Pada saat ini kuman TBC-nya ”tertidur” dan kambuh kembali pada saat daya tahan tubuh kurang dengan kuman yang lebih kuat. Karena kuman TBC ini mengikuti aliran darah, orang bisa terkena di mana saja.
Beberapa penderita tuberkulosis Osteoarticular merupakan hasil penyebaran secara hematogen dari suatu infeksi primer fokus jauh. Fokus primer mungkin terjadi di paru-paru atau di lymphonode mediastinum, mesentry, daerah cervical dan ginjal. Infeksi menjangkau sistem tulang melalui saluran vaskuler, yang biasanya arteri sebagai hasil bacillemia atau kadang-kadang di dalam tulang belakang (axial skeleton) melalui vena plexus batson’s . Tuberculosis tulang & sendi dikatakan akan berkembang 2 sampai 3 tahun setelah fokus primer.
Basil Tuberkulosis biasanya menyangkut dalam spongiosa tulang. Pada tempat infeksi timbul osteitis, kaseasi dan likuifaksi dengan pembentukan pus yang kemudian dapat mengalami kalsifikasi. Berbeda dengan osteomielitis piogenik, maka pembentukan tulang baru pada tuberculosis tulang sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Disamping itu periostitis dan sekwester hampir tidak ada. Pada tuberculosis tulang ada kecenderungan terjadi perusakan tulang rawan sendi atau discus intervertebra.
Penyebaran Kuman :
Kuman yang ”bangun” kembali dari paru-paru akan menyebar mengikuti aliran darah ke pembuluh tulang belakang dekat dengan ginjal. Kuman berkembang biak umumnya di tempat aliran darah yang menyebabkan kuman berkumpul banyak (ujung pembuluh). Terutama di tulang belakang, di sekitar tulang thorakal (dada) dan lumbal (pinggang) kuman bersarang. Kemudian kuman tersebut akan menggerogoti badan tulang belakang, membentuk kantung nanah (abses) yang bisa menyebar sepanjang otot pinggang sampai bisa mencapai daerah lipat paha.
Bahayanya Bila Menyerang Tulang :
Terbentuknya abses dan badan tulang belakang yang hancur, bisa menyebabkan tulang belakang jadi kolaps dan miring ke arah depan. Kedua hal ini bisa menyebabkan penekanan syaraf-syaraf sekitar tulang belakang yang mengurus tungkai bawah, sehingga gejalanya bisa kesemutan, baal-baal, bahkan bisa sampai kelumpuhan.
Badan tulang belakang yang kolaps dan miring ke depan menyebabkan tulang belakang dapat diraba dan menonjol di belakang dan nyeri bila tertekan, ini sering kami sebut sebagai gibbus. Bahaya yang terberat adalah kelumpuhan tungkai bawah, karena penekanan batang syaraf di tulang belakang yang dapat disertai lumpuhnya syaraf yang mengurus organ yang lain, seperti saluran kencing dan anus (saluran pembuangan).
Pengobatan Penyakit TBC
Pengobatan bagi penderita penyakit TBC akan menjalani proses yang cukup lama, yaitu berkisar dari 6 bulan sampai 9 bulan atau bahkan bisa lebih. Penyakit TBC dapat disembuhkan secara total apabila penderita secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya tahan tubuhnya dengan gizi yang cukup baik.
Selama proses pengobatan, untuk mengetahui perkembangannya yang lebih baik maka disarankan pada penderita untuk menjalani pemeriksaan baik darah, sputum, urine dan X-ray atau rontgen setiap 3 bulannya. Adapun obat-obtan yang umumnya diberikan adalah Isoniazid dan rifampin sebagai pengobatan dasar bagi penderita TBC, namun karena adanya kemungkinan resistensi dengan kedua obat tersebut maka dokter akan memutuskan memberikan tambahan obat seperti pyrazinamide dan streptomycin sulfate atau ethambutol HCL sebagai satu kesatuan yang dikenal 'Triple Drug'.
Jenis dan Dosis OBAT
• Isoniasid ( H )
Dikenal dengan INH, bersifat bacterisida, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolic aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang. Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu dengan dosis 10 mg/ kg BB.
• Rifampisin
Bersifat bakterisida, dapat membunuh kuman semi-dormant yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid. Dosis 10 mg/kg BB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali seminggu.
• Pirazinamid
Bersifat bakterisida, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.
• Streptomisin
Bersifat bakterisida, dosis yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama. Penderita yang berumur sampai 60 tahun dosisnya 0,75 gr/hari, sedangkan untuk berumur 60 tahun atau lebih diberikan 0,50 gr/hari.
• Etambutol
Bersifat sebagai bakteriostatik. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kg BB.
Prinsip pengobatan
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT. Sedangkan ditahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjut ini penting untuk membunuh kuman persistent sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Pada bulan agustus 2005 saya melakukan operasi pada bagian tulang belakang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Setelah menjalankan berbagai pemeriksaan hingga akhir nya diputuskan untuk menjalani operasi dan dilanjut dengan berobat jalan hingga 6 bulan. Alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah terasa sakit lagi, hanya tinggal melepas besi penyangga z yang selama nie bersarang dipunggungku yang selalu menjaga keseimbangan tubuhku. . .
So… buat kalian- kalian yang pernah merasakan hal yang sama. don’t worry, not thing impossible in the world. Tiap penyakit pasti ada obatnya. aku saja bisa sembuh, kenapa kalian tidak??.
sebagaimana firman Allah
“ Hai manusia , telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ". ( QS. 10 : 57 )
" Setiap Penyakit itu pasti ada obatnya, jika tepat obatnya maka Penyakit akan Sembuh dengan izin Allah 'Azza wa Jalla ". ( HR. Muslim ).
" Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit melainkan Allah juga menurunkan obatnya " ( HR. Abu Hurairah ).
Sebenarnya aku tidak terlalu paham sih kerena aku juga bukan ahli medis. Tapi ini hanya sekedar berbagi pengetahuan dari pengalaman hidupku saja . saya ngambil dari berbagai sumber seperti dari google, Wikipedia, dll serta bertanya pada dokter dan berdasarkan pengalamanku …
When there is a will there is a way….
Sekecil apaun penykit yang kita alami jika ada kemaun untuk sembuh pasti ada cara dan obat tertentu tuk menyembukannya…..Semagat….!!!.....*_^
Apa itu Spondilitis tuberkulosa:
Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosa dengan gejala yang bervariasi dan ditandai dengan pembentukan tuberkel dan necrosis kaseosa pada jaringan setiap organ yang terinfeksi. Dan dapat menyerang paru-paru atau di luar paru-paru, seperti meningitis (radang otak), TBC kulit, TBC usus, TBC ginjal, Synovitis tb (sendi) dan Spondylitis tb (TBC tulang belakang). Memang pertama kali kuman ini menyerang paru-paru, TBC di luar paru merupakan fase lanjut dari penyakit TBC paru yang tidak diobati dengan baik atau tuntas.
Penyebab Tuberculosis adalah Micobacterium Tuberculosa. Kuman ini dapat menginfeksi manusia, seperti M. bovis, M. kansasii, M. intracellular. Pada manusia paru-paru merupakan pintu gerbang utama masuknya infeksi pada organ lain, bahkan bisa sampai menginfeksi tulang.
Tuberkulosis tulang adalah suatu proses peradangan kronik dan destruktif yang disebabkan basil tuberkulosa yang menyebar secara hematogen dari focus jauh, dan hampir selalu berasal dari paru-paru. Penyebaran basil ini dapat terjadi pada waktu infeksi primer atau pasca primer.
Gejala :
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari. (Rasjad. 1998)
Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut,kemudian diikuti dengan paraparesis yang lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus,, hiper-refleksia dan refleks Babinski bilateral. Pada stadium awal ini belum ditemukan deformitas tulang vertebra, demikian pula belum terdapat nyeri ketok pada vertebra yang bersangkutan. Nyeri spinal yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal, dan komplikasi neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut. Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 50% kasus,termasuk akibat penekanan medulla spinalis yang menyebabkan paraplegia, paraparesis, ataupun nyeri radix saraf. Tanda yang biasa ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus), bengkak pada daerah paravertebra, dan tanda-tanda defisit neurologis seperti yang sudah disebutkan di atas. (Harsono,2003)
Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang kepala, gangguan menelan dan gangguan pernapasan akibat adanya abses retrofaring. Harus diingat pada mulanya penekanan mulai dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang muncul terutama gangguan motorik. Gangguan sensorik pada stadium awal jarang dijumpai kecuali bila bagian posterior tulang juga terlibat. (Harsono,2003)
Pada penderita usia anak-anak apabila tidak menimbulkan gejala, Maka TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Sekitar 30-50% anak-anak yang terjadi kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
Penularan :
Penularan TBC melalui droplet atau percikan dahak atau ludah saat penderita infektif batuk. Gejala TBC paru salah satunya adalah batuk yang lama dan menghasilkan dahak. Bagaimana bisa terkena TBC tulang? Hal ini terjadi bisa dengan dua cara, pernah menderita TBC paru kemudian tidak mendapat pengobatan secara tuntas, atau terinfeksi kuman TBC tapi tidak menunjukkan gejala. Pada saat ini kuman TBC-nya ”tertidur” dan kambuh kembali pada saat daya tahan tubuh kurang dengan kuman yang lebih kuat. Karena kuman TBC ini mengikuti aliran darah, orang bisa terkena di mana saja.
Beberapa penderita tuberkulosis Osteoarticular merupakan hasil penyebaran secara hematogen dari suatu infeksi primer fokus jauh. Fokus primer mungkin terjadi di paru-paru atau di lymphonode mediastinum, mesentry, daerah cervical dan ginjal. Infeksi menjangkau sistem tulang melalui saluran vaskuler, yang biasanya arteri sebagai hasil bacillemia atau kadang-kadang di dalam tulang belakang (axial skeleton) melalui vena plexus batson’s . Tuberculosis tulang & sendi dikatakan akan berkembang 2 sampai 3 tahun setelah fokus primer.
Basil Tuberkulosis biasanya menyangkut dalam spongiosa tulang. Pada tempat infeksi timbul osteitis, kaseasi dan likuifaksi dengan pembentukan pus yang kemudian dapat mengalami kalsifikasi. Berbeda dengan osteomielitis piogenik, maka pembentukan tulang baru pada tuberculosis tulang sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Disamping itu periostitis dan sekwester hampir tidak ada. Pada tuberculosis tulang ada kecenderungan terjadi perusakan tulang rawan sendi atau discus intervertebra.
Penyebaran Kuman :
Kuman yang ”bangun” kembali dari paru-paru akan menyebar mengikuti aliran darah ke pembuluh tulang belakang dekat dengan ginjal. Kuman berkembang biak umumnya di tempat aliran darah yang menyebabkan kuman berkumpul banyak (ujung pembuluh). Terutama di tulang belakang, di sekitar tulang thorakal (dada) dan lumbal (pinggang) kuman bersarang. Kemudian kuman tersebut akan menggerogoti badan tulang belakang, membentuk kantung nanah (abses) yang bisa menyebar sepanjang otot pinggang sampai bisa mencapai daerah lipat paha.
Bahayanya Bila Menyerang Tulang :
Terbentuknya abses dan badan tulang belakang yang hancur, bisa menyebabkan tulang belakang jadi kolaps dan miring ke arah depan. Kedua hal ini bisa menyebabkan penekanan syaraf-syaraf sekitar tulang belakang yang mengurus tungkai bawah, sehingga gejalanya bisa kesemutan, baal-baal, bahkan bisa sampai kelumpuhan.
Badan tulang belakang yang kolaps dan miring ke depan menyebabkan tulang belakang dapat diraba dan menonjol di belakang dan nyeri bila tertekan, ini sering kami sebut sebagai gibbus. Bahaya yang terberat adalah kelumpuhan tungkai bawah, karena penekanan batang syaraf di tulang belakang yang dapat disertai lumpuhnya syaraf yang mengurus organ yang lain, seperti saluran kencing dan anus (saluran pembuangan).
Pengobatan Penyakit TBC
Pengobatan bagi penderita penyakit TBC akan menjalani proses yang cukup lama, yaitu berkisar dari 6 bulan sampai 9 bulan atau bahkan bisa lebih. Penyakit TBC dapat disembuhkan secara total apabila penderita secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya tahan tubuhnya dengan gizi yang cukup baik.
Selama proses pengobatan, untuk mengetahui perkembangannya yang lebih baik maka disarankan pada penderita untuk menjalani pemeriksaan baik darah, sputum, urine dan X-ray atau rontgen setiap 3 bulannya. Adapun obat-obtan yang umumnya diberikan adalah Isoniazid dan rifampin sebagai pengobatan dasar bagi penderita TBC, namun karena adanya kemungkinan resistensi dengan kedua obat tersebut maka dokter akan memutuskan memberikan tambahan obat seperti pyrazinamide dan streptomycin sulfate atau ethambutol HCL sebagai satu kesatuan yang dikenal 'Triple Drug'.
Jenis dan Dosis OBAT
• Isoniasid ( H )
Dikenal dengan INH, bersifat bacterisida, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolic aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang. Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu dengan dosis 10 mg/ kg BB.
• Rifampisin
Bersifat bakterisida, dapat membunuh kuman semi-dormant yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid. Dosis 10 mg/kg BB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali seminggu.
• Pirazinamid
Bersifat bakterisida, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.
• Streptomisin
Bersifat bakterisida, dosis yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama. Penderita yang berumur sampai 60 tahun dosisnya 0,75 gr/hari, sedangkan untuk berumur 60 tahun atau lebih diberikan 0,50 gr/hari.
• Etambutol
Bersifat sebagai bakteriostatik. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kg BB.
Prinsip pengobatan
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT. Sedangkan ditahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjut ini penting untuk membunuh kuman persistent sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Pada bulan agustus 2005 saya melakukan operasi pada bagian tulang belakang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Setelah menjalankan berbagai pemeriksaan hingga akhir nya diputuskan untuk menjalani operasi dan dilanjut dengan berobat jalan hingga 6 bulan. Alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah terasa sakit lagi, hanya tinggal melepas besi penyangga z yang selama nie bersarang dipunggungku yang selalu menjaga keseimbangan tubuhku. . .
So… buat kalian- kalian yang pernah merasakan hal yang sama. don’t worry, not thing impossible in the world. Tiap penyakit pasti ada obatnya. aku saja bisa sembuh, kenapa kalian tidak??.
sebagaimana firman Allah
“ Hai manusia , telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ". ( QS. 10 : 57 )
" Setiap Penyakit itu pasti ada obatnya, jika tepat obatnya maka Penyakit akan Sembuh dengan izin Allah 'Azza wa Jalla ". ( HR. Muslim ).
" Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit melainkan Allah juga menurunkan obatnya " ( HR. Abu Hurairah ).
Sebenarnya aku tidak terlalu paham sih kerena aku juga bukan ahli medis. Tapi ini hanya sekedar berbagi pengetahuan dari pengalaman hidupku saja . saya ngambil dari berbagai sumber seperti dari google, Wikipedia, dll serta bertanya pada dokter dan berdasarkan pengalamanku …
When there is a will there is a way….
Sekecil apaun penykit yang kita alami jika ada kemaun untuk sembuh pasti ada cara dan obat tertentu tuk menyembukannya…..Semagat….!!!.....*_^