Ini
merupakan ketiga kalinya ayahku masuk rumah sakit dikarenakan penyakit diabetes melitus…y ada faktor
keturunan juga sih dari keluarga, bahkan kebanyakan keluarganya meninggal
dikarenakan penyakit tersebut.
Bahayanya
penyakit ini jika tidak ditangani akan mengakibatkan komplikasi ke semua bagian
tubuh. Dari kulit, mata,jantung,ginjal, pembuluh darah sampai tangan dan kaki.
Sebenarnya
aku g tega melihat ayahku meraung kesakitan hingga kejang2, memang waktu itu
gula darahnya mencapai 800… andaikan kesakitan itu bisa dibagi, biar aku yang
menanggungnya..(pengen jadi herois
ceritanya_^)
mungkin karena udah merasa cape dengan
penyakit yg dia derita, ayah udah gak mau ngikutin saran dokter dan yang
akhirnya harus dirawat juga dirumah sakit..(klo kata mamah sieh aki-aki
buandeell).
ya
walaupun aku g tau apa2 tentang penyakit itu tapi suka denger dari mamahku
mengenai bahayanya penyakit tsb bahkan mamahku mempelajarinya lebih dalam ...
Beruntungnya aku punya mamah yang begitu sayang pada keluarga.*_^
Sekedar
berbagi ilmu kita bahas apa itu diabetes melitus _^. Tenang z frend nie Diambil
dari beberapa sumber ko jadi tak usah hawatir walaupun tadinya saya ga tau apa-
apa tentang hal ini. Cek it out dan moga bermanfaat_^
Diabetes melitus adalah
suatu penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula dalam darah seseorang
menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat digunakan oleh tubuh.
Diabetes Mellitus / DM dikenal juga dengan sebutan penyakit gula darah atau
kencing manis yang mempunyai jumpah penderita yang cukup banyak di Indonesia
juga di seluruh dunia. (wow serem juga yuah)
Pada
orang yang sehat karbohidrat dalam makanan yang dimakan akan diubah menjadi
glokosa yang akan didistribusikan ke seluruh sel tubuh untuk dijadikan energi
dengan bantuan insulin. Pada orang yang menderita kencing manis, glukosa sulit
masuk ke dalam sel karena sedikit atau tidak adanya zat insulin dalam tubuh.
Akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi yang nantinya dapat
memberikan efek samping yang bersifat negatif atau merugikan.
Kadar
gula yang tinggi akan dibuang melalui air seni. Dengan demikian air seni
penderita kencing manis akan mengandung gula sehingga sering dilebung atau
dikerubuti semut. Selanjutnya orang tersebut akan kekurangan energi / tenaga,
mudah lelah, lemas, mudah haus dan lapar, sering kesemutan, sering buang air
kecil, gatal-gatal, dan sebagainya. Kandungan atau kadar gula penderita
diabetes saat puasa adalah lebih dari 126 mg/dl dan saat tidak puasa atau
normal lebih dari 200 mg/dl. Pada orang normal kadar gulanya berkisar 60-120
mg/dl.
Penyebab Diabetes Mellitus
Kemungkinan
induksi diabetes tipe 2 dari berbagai macam kelainan hormonal, seperti hormon sekresi kelenjar adrenal, hipofisis dan tiroid
merupakan studi pengamatan yang sedang laik daun saat ini. Sebagai contoh,
timbulnya IGT dan diabetes mellitus sering disebut terkait oleh akromegali
dan hiperkortisolisme
atau sindrom Cushing.
Hipersekresi
hormon GH pada
akromegali dan sindrom Cushing sering berakibat pada resistansi insulin, baik
pada hati dan organ lain, dengan simtoma hiperinsulinemia
dan hiperglisemia,
yang berdampak pada penyakit
kardiovaskular dan berakibat kematian.[7]
GH memang memiliki peran
penting dalam metabolisme
glukosa dengan menstimulasi glukogenesis
dan lipolisis,
dan meningkatkan kadar glukosa darah dan asam lemak. Sebaliknya, insulin-like
growth factor 1 (IGF-I) meningkatkan kepekaan terhadap insulin, terutama
pada otot lurik. Walaupun
demikian, pada akromegali, peningkatan rasio IGF-I tidak dapat menurunkan
resistansi insulin, oleh karena berlebihnya GH.
Terapi
dengan somatostatin
dapat meredam kelebihan GH pada sebagian banyak orang, tetapi karena juga
menghambat sekresi insulin dari pankreas,
terapi ini akan memicu komplikasi pada toleransi
glukosa.
Sedangkan
hipersekresi hormon kortisol
pada hiperkortisolisme yang menjadi penyebab obesitas viseral, resistansi
insulin, dan dislipidemia, mengarah pada hiperglisemia dan turunnya toleransi
glukosa, terjadinya resistansi insulin, stimulasi glukoneogenesis dan glikogenolisis. Saat
bersinergis dengan kofaktor hipertensi,
hiperkoagulasi,
dapat meningkatkan risiko kardiovaskular.
Hipersekresi
hormon juga terjadi pada kelenjar
tiroid berupa tri-iodotironina
dengan hipertiroidisme
yang menyebabkan abnormalnya toleransi glukosa.
Pada
penderita tumor neuroendokrin,
terjadi perubahan toleransi glukosa yang disebabkan oleh hiposekresi insulin,
seperti yang terjadi pada pasien bedah
pankreas, feokromositoma,
glukagonoma
dan somatostatinoma.
Hipersekresi
hormon ditengarai juga menginduksi diabetes tipe lain, yaitu tipe 1. Sinergi
hormon berbentuk sitokina, interferon-gamma dan TNF-α, dijumpai membawa sinyal apoptosis bagi sel
beta, baik in vitro maupun in vivo.[8]
Apoptosis sel beta juga terjadi akibat mekanisme Fas-FasL,[9][10]
dan/atau hipersekresi molekul
sitotoksik, seperti granzim
dan perforin; selain
hiperaktivitas sel T CD8-
dan CD4-.[10]
Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus
Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM
atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula
darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL
dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose),
sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut.
Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :
Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :
1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)
2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
6. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan &
kaki
7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
9. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya
10.Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.
Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan
seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. Gejala kencing
manis dapat berkembang dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan minggu atau
bulan, terutama pada seorang anak yang menderita penyakit diabetes mellitus
tipe 1.
Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya
mereka tidak mengalami berbagai gejala diatas. Bahkan mereka mungkin tidak
mengetahui telah menderita kencing manis.
Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi Diabetes Mellitus
1. Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin
dimana tubuh kekurangan hormon insulin,dikenal dengan istilah Insulin Dependent
Diabetes Mellitus (IDDM). Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil
insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan
pada balita, anak-anak dan remaja.
Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati
dengan pemberian therapi insulin yang dilakukan secara terus menerus
berkesinambungan. Riwayat keluarga, diet dan faktor lingkungan sangat
mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1. Pada penderita diebetes tipe
1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya,
sebaiknya menggunakan alat test gula darah. Terutama pada anak-anak atau balita
yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang
berbagai penyakit.
2. Diabetes mellitus tipe
2
Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak
dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent
Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti
kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya
sensitifitas (respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai
dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.
Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Pada penderita diabetes tipe 2, pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet, penurunan berat badan, dan pemberian tablet diabetik. Apabila dengan pemberian tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah, maka obat suntik mulai dipertimbangkan untuk diberikan.
Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Pada penderita diabetes tipe 2, pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet, penurunan berat badan, dan pemberian tablet diabetik. Apabila dengan pemberian tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah, maka obat suntik mulai dipertimbangkan untuk diberikan.
Kadar Gula Dalam Darah
Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70 - 150 mg/dL
{millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4 - 8 mmol/l
{milligrams/deciliter (satuan unit United State)}, Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl.
Namun demikian, kadar gula tentu saja terjadi peningkatan
setelah makan dan mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur. Seseorang
dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar gula dalam darah jauh diatas
nilai normal, sedangkan hypoglycemia adalah suatu kondisi dimana seseorang
mengalami penurunan nilai gula dalam darah dibawah normal.
Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih, dan pemeriksaan gula darah 2 jam setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Sedangkan pemeriksaan gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL, terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl.
Banyak alat test gula darah yang diperdagangkan saat ini dan dapat dibeli dibanyak tempat penjualan alat kesehatan atau apotik seperti Accu-Chek, BCJ Group, Accurate, OneTouch UltraEasy machine. Bagi penderita yang terdiagnosa Diabetes Mellitus, ada baiknya bagi mereka jika mampu untuk membelinya.
Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih, dan pemeriksaan gula darah 2 jam setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Sedangkan pemeriksaan gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL, terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl.
Banyak alat test gula darah yang diperdagangkan saat ini dan dapat dibeli dibanyak tempat penjualan alat kesehatan atau apotik seperti Accu-Chek, BCJ Group, Accurate, OneTouch UltraEasy machine. Bagi penderita yang terdiagnosa Diabetes Mellitus, ada baiknya bagi mereka jika mampu untuk membelinya.
Pencegahan Diabetes Mellitus
Pencegahan primer
Pencegahan
primer adalah upaya yang ditujukan kepada orang-orang yang termasuk ke dalam
kategori beresiko tinggi, yaitu orang-orang yang belum terkena penyakit ini
tapi berpotensi untuk mendapatkannya. Untuk pencegahan secara primer, sangat
perlu diketahui terlebih dahulu faktor-faktor apa saja yang berpengaruh
terhadap terjadinya diabetes melitus, serta upaya yang dilakukan untuk
menghilangkan faktor-faktor tersebut. Edukasi berperan penting dalam pencegahan
secara primer.
Pencegahan
sekunder
Pencegahan
sekunder merupakan suatu upaya pencegahan dan menghambat timbulnya penyakit
dengan deteksi dini dan memberikan pengobatan sejak awal. Deteksi dini
dilakukan dengan pemeriksaan penyaring. Hanya saja pemeriksaan tersebut
membutuhkan biaya yang cukup besar. Pengobatan penyakit sejak awal harus segera
dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyakit menahun. Edukasi
mengenai diabetes melitus dan
pengelolaannya, akan mempengaruhi peningkatan kepatuhan pasien untuk berobat.
Pencegahan
tersier
Jika
penyakit menahun diabetes melitus terjadi kepada Anda, maka para ahli harus
berusaha mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan merehabilitasi
penderita sedini mungkin sebelum penderita mengalami kecacatan yang menetap.
Contohnya saja, acetosal dosis rendah (80 – 325 mg) dapat diberikan secara
rutin bagi pasien diabetes melitus yang telah memiliki penyakit makroangiopati
(pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak, pembuluh
darah kapiler retina mata, pembuluh darah kapiler ginjal). Pelayanan kesehatan
yang holistik dan terintegrasi antar disiplin terkait sangat diperlukan sebagai
upaya untuk pengobatan diabetes mellitus
Pengobatan dan Penanganan
Penyakit Diabetes Mellitus
Penderita diabetes tipe 1 umumnya menjalani pengobatan therapi
insulin (Lantus/Levemir, Humalog, Novolog atau Apidra) yang berkesinambungan,
selain itu adalah dengan berolahraga secukupnya serta melakukan pengontrolan
menu makanan (diet).
Pada penderita diabetes mellitus tipe 2, penatalaksanaan
pengobatan dan penanganan difokuskan pada gaya hidup dan aktivitas fisik.
Pengontrolan nilai kadar gula dalam darah adalah menjadi kunci program
pengobatan, yaitu dengan mengurangi berat badan, diet, dan berolahraga. Jika
hal ini tidak mencapai hasil yang diharapkan, maka pemberian obat tablet akan
diperlukan. Bahkan pemberian suntikan insulin turut diperlukan bila tablet
tidak mengatasi pengontrolan kadar gula darah.
Sumber :
Symposium Practical Approach in the Management of Diabetic Complications
Symposium Practical Approach in the Management of Diabetic Complications